@ll about me – dulu, kini dan esok

6 August 2008

300-an phD di PKS bikin banyak pihak gerah, luar biasa !! :)

Filed under: Opini — kartiadie @ 9:58 am

Ada – ada saja fenomena politik di negeri gw ini.. sayang semuanya selalu didahulukan dengan pandangan pesimis yang luar biasa dan dicermati oleh mereka – mereka yang berpendapat miring dengan pandangan sempit yang keburu nafsu…

(more…)

20 February 2008

Islamnya Napoleon Bonaparte

Filed under: Opini — kartiadie @ 8:41 am

(dari kiriman email)
Napoleon
Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.
Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.
Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.
Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.
Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?
Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
“I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?”
“The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea… I say that of all the suns and planets,…”
“Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?” (Lihat Kejadian 19:30-38)
“Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut…. saya katakan, semua matahari dan planet-planet ….”
Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :
“Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.”

“Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa.”
Selanjutnya :
“Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans.”

“Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam.”
Akhirnya ia berkata :
“In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner.”

“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping.”
Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.

Referensi :
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner’s Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. ‘Napoleon And Islam’ by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices – Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E

3 October 2007

Saya pun bersedia jadi Capres RI

Filed under: Opini — kartiadie @ 10:14 am

Sepak terjang politikus di negeri ini luar biasa, masih juga pemilu 2 tahun lagi.. eh, dari sekarang udah mulai promosi diri menjadi capres, kalo bu Mega malu-malu trus mau.. kalo bang Yos super pede mengajukan diri jadi capres. Kalau begitu saya pun siap jadi capres RI.

Ah guyon.. namun setidaknya saya punya banyak hal pertimbangan agar Indonesia ini ‘lepas landas’ menjadi bangsa dengan derajat tinggi. dan punya program jangka pendek dan jangka panjang selama kepemimpinan ini. Semuanya tidak harus muluk-muluk dan serba wah.. karena yang pasti, orientasi ke depan adalah Indonesia harus menjadi negeri yang memiliki mutu “berisi dan merunduk”, yah seperti konsep padi yang berisi. Semakin banyak memiliki intektual diri namun rendah hati. Yah.. gitulah kurang lebih, menjadi bangsa yang memiliki hati nurani, rendah hati, berani dan yang pasti tetap menghargai dan cinta tanah air ini. (more…)

16 August 2007

Indonesia (dan diri kita belum) Merdeka, Bung !!

Filed under: Opini — kartiadie @ 9:22 am

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2007

62 tahun lalu, terdengar pekik kemerdekaan seantero negeri ini.. walaupun tidak merata wilayah Indonesia mengetahui di waktu bersamaan, namun darah semangat memancar dari setiap warga negara ini di jaman itu. Kemerdekaan Indonesia dari Jepang yang menyerah tanpa syarat terhadap sekutu itu lebih banyak didengar dari radio yang disiarkan oleh “gerakan bawah tanah”, wajar tentunya.. karena Jepang pun tetap menginginkan tanah jajahannya di negeri ini mestipun mereka kalah perang akibat negerinya di bom atomkan oleh pasukan udara AS saat itu.

Kalau menurut cerita orang tua yang hidup di jaman itu, di Bandung saja pekik kemerdekaan baru berkumandang telat bbrp hari. di Sumatera  (menurut sebuah buku), Pekik merdeka berkumandang hampir lebih seminggu setelah tanggal “keramat” tersebut. Yah.. memang tidak semuanya mendengarkan teks proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno & Bung Hatta, wajar saja.. karena waktu itu waktu siaga bertempur tiap detik, sedangkan pemilik radio apalagi televisi jelas bukan orang – orang sembarang, jadi masyarakat luas sulit sekali mendapatkan informasi resmi tentang kemerdekaan itu.

Yaah, menyimak itu saja kadang perasaan gw turut berbaur .. apalagi saat diceritakan oleh pelaku sejarah itu sendiri.. bagaimana mereka berjuang mengangkat senjata, bagaimana mereka harus melihat sahabat – sahabat mereka terkapar penuh luka dan gugur. Merinding saat mendengar pekik takbir guna menggugah semangat yang mulai kendor akibat pertempuran panjang. Tertunduk kuatir jika membayangkan desingan peluru dan bom di sekitar. Ach.. gw merasakan getaran kuat bila mendengarkan orang tua itu bercerita.

Cerita itu sudah hampir 10 thn berlalu.. kini orang tua itu telah gugur pula, jasadnya pun dimakamkan di taman makam pahlawan atau kampung itu menyebutkan sebagai makam belanda, karena memang banyak kompeni dikuburkan, tapi setelah perjuangan kemerdekaan, masyarakat menamakannya makam pahlawan. Yah, meskipun orang tua itu tiada di era sekarang, beliau wajib dihormati sebagai pahlawan.

10 tahun lalu cerita itu gw dengar, semangat kebangsaan itu senantiasa mewarnai langkah gw.. sebisa mungkin gw mengisi hidup gw ini pun dengan hal berguna bagi bangsa ini.. cobalah tengok makam-makam pahlawan negeri ini, mereka saja mau memberikan jiwanya untuk negeri ini, kenapa gw  hanya memberikan ilmu saja tidak mau… !! sentimentil kebangsaan pun kerap menyelimuti, ada yang menyinggung negeri ini kadang hati ini panaaas sekali, meskipun tidak banyak berbuat saat itu, tapi selain agama, orang tua dan sahabat.. bangsa ini kerap gw sayangi setulus hati gw. Bahkan saat pramuka saja, gw bisa menangis mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang. Wow.. nasionalis sekali gw

Tapi, 2007 ini.. gw sering termenung. Apakah benar bangsa ini benar – benar merdeka… dulu, selain penjajahan fisik.. negeri ini tidak memiliki ketergantungan apapun ke siapapun. Sangat mandiri, masyarakatnya pun sungguh ulet dan kuat. tapi, cobalah tengok ke kiri dan ke kanan.. apakah benar negeri ini telah benar-benar merdeka. Tidak perlu tengok kanan-kiri deh, lihat dulu tubuh sendiri.. apakah benar2 telah merdeka … wow, jawaban sulit.. Baju saja, kita sering kali ga pede dengan made in yang ga jelas.. inginnya pakai brand keren, meskipun mahal. Celana ? sepatu ? jam ? cincin ? kalung ? kacamata ? dompet? makanan ? minuman ? cemilan ? apakah benar kita sudah “memerdekakan diri” ?????

kalau scope negeri, gw rasa siapapun sepakat bahwa kita belum sepenuhnya merdeka, tengok saja.. seberapa tinggi hutang negeri ini, betapa ketergantungannya kita pada teknologi, betapa takluknya ekonomi negeri ini, dan betapa terkontrolnya pemegang amanah di negeri ini dengan kebijakan bangsa asing. Wah.. gw agak miris untuk memberikan lebih lanjut.

Teman, gw yakin tak sepenuhnya sebuah opini itu akurat.. tapi yakinkanlah bahwa cinta kita pada negeri ini akurat, tidak mencla-mencle mengorbankan negeri ini untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Yuk, nyanyiin lagu Indonesia Raya .. :D , mau versi mana.. terseraaaahh :P

Sukses Indonesiaku, ku tunggu kemerdekaan hakikimu…

5 July 2007

Realisasikan Saja Single Indentity Number di Indonesia

Filed under: Opini — kartiadie @ 9:11 am

Kisruh dan selalu kisruh….

itu kesan yang selalu gw dapatkan bilamana melibatkan masyarakat luas sebagai konstituen, mulai dari pilkada, pilpres bahkan pemilihan kelurahan sekalipun. selalu saja aja konflik horizontal yang mengakibatkan kurang harmonisnya hubungan masyarakat itu, meskipun dalam satu wilayah. Tentunya ini satu dampak yang tidak diinginkan akibat kurang teraturnya pencatatan sipil.

Terus berulangnya kebingungan akibat tidak uptodate data sipil ini pun kini dirasakan oleh saudara-saudara kita yang ada di Jakarta yang sedang mengadakan perhelatan akbar yaitu pilkada DKI Jakarta. Berbagai isu ghost voter hingga suara hilang menjadi isu yang hangat dibicarakan. tidak di jakarta saja, dipastikan setiap pilkada akan terjadi kasus serupa.

Tidak uptodate data ini tentunya sangat disayangkan, karena akurasi data kependudukan sangat dibutuhkan namun ternyata tidak terkelola dengan baik. Meskipun diyakini sulit sekali memantau pergerakan penduduk yang mobilitas tinggi menjadi penyebab, namun seharusnya dengan adanya mekanisme yang teratur dan dimulai dari dini.. lambat laun pola-pola pengaturan data penduduk bisa teratasi. Sehingga jangankan pilkada, Pemilihan langsung presiden pun dapat berjalan dengan baik dan tidak perlu ada hal-hal keganjilan data penduduk lagi.

Satu solusi yang paling masuk akal adalah pengelolaan Single Indentity Number (SIN) yang bisa segera direalisasikan. Setiap penduduk memiliki kode unik yang secara bebas dapat dibawa kemana-mana dan berlaku nasional. SIN ini tentunya akan memberikan data akurat terhadap jumlah penduduk. bahkan dengan mudah dapat memberikan report yang cepat saat akan digunakan dalam keperluan nasional sekalipun.

Memang perlu pula dipertimbangkan mekanisme lebih dalam dari SIN ini, mulai dari update database hingga remark jika penduduk tersebut meninggal. Mungkin salah satu solusi yang bisa dilakukan adalah adanya waktu rutin tiap 6 bulan pemerintahaan daerah (melalui kecamatan atau kelurahan) mendata ulang. atau berikan pemahaman berkelanjutan kepada masyarakat untuk selalu mereport jika melakukan pindah tempat, entah itu bekerja, pindah rumah hingga melaporkan jika ada anggota keluarganya ada yang meninggal. Sebenarnyanye mekanisme itu sudah ada di masyarakat dasar hanya saja pendataan yang masih manual sering kali tidak terupdate dengan cepat. Disinipun perlu ditekankan kepada pemerintah daerah untuk rajin langsung mengupdate data-data jika ada masukan data pada hari itu juga atau setidak-tidaknya tidak lebih dari 2-3 hari agar tidak lupa.

Karena bersifat nasional, maka yang perlu diperhatikan adalah server utama yang juga bisa diakses nasional. Jaringan nasional ini tentunya menjadi prioritas agar penggandaan data tidak terjadi (yg bisa berakibat fatal). Ini pastinya membutuhkan investasi tinggi, tapi lakukan hal ini step by step, tidak harus serentak langsung mengingat keuangan nasional perlu ada prioritas pengeluaran. Anggarkan saja tiap tahun hingga lambat laun bisa mulai terjangkau menyeruluh dan saling terkoneksi dengan data / server pusat.

Tidak ada kata “TIDAK BISA”, ini hanya masalah kemauan dan serius untuk menertibkan dan mempermudah pencatatan sipil. Setiap hambatan pasti akan ada, tapi bagaimana mengatasinya adalah bentuk konsistensi dan pemahaman mendalam bahwa kita memang membutuhkan sebuah sistem terintegrasi guna mengatur catatan sipil ini.

Semoga saja… asal mau :)

Next Page »

Blog at WordPress.com.