Indonesia (dan diri kita belum) Merdeka, Bung !!

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2007

62 tahun lalu, terdengar pekik kemerdekaan seantero negeri ini.. walaupun tidak merata wilayah Indonesia mengetahui di waktu bersamaan, namun darah semangat memancar dari setiap warga negara ini di jaman itu. Kemerdekaan Indonesia dari Jepang yang menyerah tanpa syarat terhadap sekutu itu lebih banyak didengar dari radio yang disiarkan oleh “gerakan bawah tanah”, wajar tentunya.. karena Jepang pun tetap menginginkan tanah jajahannya di negeri ini mestipun mereka kalah perang akibat negerinya di bom atomkan oleh pasukan udara AS saat itu.

Kalau menurut cerita orang tua yang hidup di jaman itu, di Bandung saja pekik kemerdekaan baru berkumandang telat bbrp hari. di Sumatera  (menurut sebuah buku), Pekik merdeka berkumandang hampir lebih seminggu setelah tanggal “keramat” tersebut. Yah.. memang tidak semuanya mendengarkan teks proklamasi yang dibacakan oleh Bung Karno & Bung Hatta, wajar saja.. karena waktu itu waktu siaga bertempur tiap detik, sedangkan pemilik radio apalagi televisi jelas bukan orang – orang sembarang, jadi masyarakat luas sulit sekali mendapatkan informasi resmi tentang kemerdekaan itu.

Yaah, menyimak itu saja kadang perasaan gw turut berbaur .. apalagi saat diceritakan oleh pelaku sejarah itu sendiri.. bagaimana mereka berjuang mengangkat senjata, bagaimana mereka harus melihat sahabat – sahabat mereka terkapar penuh luka dan gugur. Merinding saat mendengar pekik takbir guna menggugah semangat yang mulai kendor akibat pertempuran panjang. Tertunduk kuatir jika membayangkan desingan peluru dan bom di sekitar. Ach.. gw merasakan getaran kuat bila mendengarkan orang tua itu bercerita.

Cerita itu sudah hampir 10 thn berlalu.. kini orang tua itu telah gugur pula, jasadnya pun dimakamkan di taman makam pahlawan atau kampung itu menyebutkan sebagai makam belanda, karena memang banyak kompeni dikuburkan, tapi setelah perjuangan kemerdekaan, masyarakat menamakannya makam pahlawan. Yah, meskipun orang tua itu tiada di era sekarang, beliau wajib dihormati sebagai pahlawan.

10 tahun lalu cerita itu gw dengar, semangat kebangsaan itu senantiasa mewarnai langkah gw.. sebisa mungkin gw mengisi hidup gw ini pun dengan hal berguna bagi bangsa ini.. cobalah tengok makam-makam pahlawan negeri ini, mereka saja mau memberikan jiwanya untuk negeri ini, kenapa gw  hanya memberikan ilmu saja tidak mau… !! sentimentil kebangsaan pun kerap menyelimuti, ada yang menyinggung negeri ini kadang hati ini panaaas sekali, meskipun tidak banyak berbuat saat itu, tapi selain agama, orang tua dan sahabat.. bangsa ini kerap gw sayangi setulus hati gw. Bahkan saat pramuka saja, gw bisa menangis mendengar lagu Indonesia Raya berkumandang. Wow.. nasionalis sekali gw

Tapi, 2007 ini.. gw sering termenung. Apakah benar bangsa ini benar – benar merdeka… dulu, selain penjajahan fisik.. negeri ini tidak memiliki ketergantungan apapun ke siapapun. Sangat mandiri, masyarakatnya pun sungguh ulet dan kuat. tapi, cobalah tengok ke kiri dan ke kanan.. apakah benar negeri ini telah benar-benar merdeka. Tidak perlu tengok kanan-kiri deh, lihat dulu tubuh sendiri.. apakah benar2 telah merdeka … wow, jawaban sulit.. Baju saja, kita sering kali ga pede dengan made in yang ga jelas.. inginnya pakai brand keren, meskipun mahal. Celana ? sepatu ? jam ? cincin ? kalung ? kacamata ? dompet? makanan ? minuman ? cemilan ? apakah benar kita sudah “memerdekakan diri” ?????

kalau scope negeri, gw rasa siapapun sepakat bahwa kita belum sepenuhnya merdeka, tengok saja.. seberapa tinggi hutang negeri ini, betapa ketergantungannya kita pada teknologi, betapa takluknya ekonomi negeri ini, dan betapa terkontrolnya pemegang amanah di negeri ini dengan kebijakan bangsa asing. Wah.. gw agak miris untuk memberikan lebih lanjut.

Teman, gw yakin tak sepenuhnya sebuah opini itu akurat.. tapi yakinkanlah bahwa cinta kita pada negeri ini akurat, tidak mencla-mencle mengorbankan negeri ini untuk kepentingan pribadi dan golongan.

Yuk, nyanyiin lagu Indonesia Raya .. :D, mau versi mana.. terseraaaahh 😛

Sukses Indonesiaku, ku tunggu kemerdekaan hakikimu…

Advertisements

sahabat, maafkan saya belum menemukanmu !

Teman, sahabat, sobat atau apapun namanya adalah sosok yang penting dalam kehidupan gw. Dari doeloe, tiap hari dan tiap waktu gw mesti mendapatkan teman baru, kapanpun dan dimanapun.

2 hari lalu, gw menemukan email teman lama yang ada di Malaysia.. searching di friendster.. ketemuuu.. tapi entahlah, apakah dia masih mengenal gw, karena waktu loss communication cukup panjang.. ada 10 tahun. Iya kalau sobat-sobat gw ini terkoneksi dengan internet, bagaimana yang tidak ???

Karena, sebelum era internet mewabah.. gw cukup aktif berkoresponden dengan banyak sobat di nusantara ini.. ada yg di Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Jawa. di Jawa aja sudah kehilangan “jejak” apalagi yang diluar pulau .. Duch, seandainya mereka tlah menggunakan pula “jasa” internet ini.. rasanya ingin sekali menemukannya.

Hmm.. mungkin waktu yang kelak menjawabnya.
Maaf sahabat, saya belum menemukanmu… !

Berorganisasilah…

Seberapa banyak dari kita yang tidak menyukai berkelompok, berserikat, berkumpul atau kata canggihnya berorganisasi… coba tengok diri kita, gw dari muda sih sebenarnya cukup getol masuk berbagai jenis kelompok yang ngalor ngidul hingga organisasi yang cukup jelas dan punya program kerja.

Entah seberapa sering gw “ngomporin” kepada orang yang suka “menyendiri” guna masuk ke dalam sebuah organisasi. walaupun secara pribadi sebenarnya tidak ada keuntungan gw mengajaknya… tapi itulah, gw merasakan sebuah manfaat berorganisasi, dan gw ingin orang lain merasakan manfaatnya itu.

Dengan berorganisasi, akan membentuk sebuah kepribadian yang bertanggung jawab, kritis, solid, kuat pendirian, tidak gentar, mampu berargumen yang masuk akal, dapat melihat berbagai masalah dari berbagai sisi .. yang semuanya kelak memperkaya diri dengan skill yang mumpuni.

Tak sedikit orang sukses berawal dari gemar berorganisasi. Dengan berorganisasi, hubungan dengan orang lain akan meluas, wawasan bertambah, mampu membaca karakter, mudah sekali berintropeksi diri plus terasa mudah untuk cepat membaur dengan komunitas baru.

Berorganisasi tidaklah merugi, banyak hal yang bisa kita raih baik untuk diri sendiri ataupun peran di masyarakat. Di dunia kerja pun terkadang terlihat sekali dominasi peran menonjol dari mereka yang memiliki pengalaman berorganisasi.

Yah, namuun dibalik banyaknya organisasi yang bisa dipilih atau justru dibuat, cobalah tetap pakai hati nurani, karena sense of crisis yang salah bisa berakibat fatal untuk kehidupan kita berikutnya. So, selamat berorganisasi…

Kamu Suka, Dia ???

Hiruk pikuk anak muda selalu saja terkait masalah ini, HAHAHA.. kayak gw ga pernah muda aje 😛

Ada hal yang kerap merisaukan diri gw kalo melihat “gelagat” anak muda yang lagi jatuh cinte.. duch ampun deh, Norak .. ada sih yg ga, kayak gw gitu.. hihi. Tapi hal ini menarik diamati… beberapa “anak muda” sempat gw tanya-tanyain dikit lah masalah hal ini, sayangnya mereka yang gw tanyain anak muda dijamannye, alias skrg udah tua .. 🙂

Setidaknya ada “perulangan” perilaku yang dirasakan anak muda tempo doeloe.. sama perilaku anak abg sekarang.. hehe.
tapi yang menarik bagi gw adalah ternyata kasus “Kamu suka, dia (belum tentu) suka” banyak pula terjadi.. dan “anak muda” jaman jadul itu mengakui pernah mengalaminya, meskipun ada beberapa yang tokcer, alias pede kate langsung kecantol…

Tapi apapun kesamaannya, tentu jangan terlalu dirisaukan.. tuk anak muda jaman kini, namanye jodoh sih insya ALLAH udah disiapin ma ALLAH untuk semua makhluk hidup ciptaan-NYA. So, kalo mau ngarepin “cinta-cinta monyet” mah ga jamannye deh sekarang, cari aja yang pasti-pasti… buat apa bikin muka malu kemerahan, kalo “elo suka, tapi dia ???”. So, kalo emang demen yaa ungkapin donk, tapi jangan juga hanya tuk “cinta-cintaan monyet” … so, langsung serius adalah hal gentle yang meski diusung dalam hati.

Sudah siap nikah ? katakan pada dia, jangan simpan saja dalam hati, tapi kalo belum siap nikah.. ga usah cinta-cinta “monyet” dulu lah.. ngabisin dana aje !!!

Tugas 4 tahun di IKALUNI-BL Selesai .. !!

Fuiihhh…

4 tahun lalu, gw masuk dalam jajaran Ikatan Alumni Univ Budi Luhur (IKALUNI-BL), dan sabtu kemaren adalah Munas I IKALUNI-BL, yang berhasil menggantikan posisi ketua dari Mas Ahmad ke Maswig.

Sepanjang perjalanan IKALUNI “generasi pertama” ini memang tidak banyak aktifitas “kelihatan” yang dilakukannya, terkecuali reuni akbar dan 1x seminar (kebetulan gw yang handle). Tapi dibelakang itu, kepengurusan ini mampu merampungkan AD/ART organisasi yang memang pastinya bukan hal mudah. Dari pribadi sih, gw emang ga banyak terlibat dalam pembentukan dan perampungan itu, tapi secara spirit gw bersyukur ada hal nyata untuk mengatakan kepengurusan “edisi awal” ini berhasil.

Memang banyak PR yang harus dibenahi di kepengurusan baru, tugas Maswig pastinya tidak mudah.. dan beberapa formatur pengurus sudah ada “ditangan” Maswig, termasuk nama gw yang kembali akan terlibat dalam organisasi mantan mahasiswa Budi Luhur tersebut untuk kurun waktu 3 tahun ke depan. Hiks.. mudah2an cukup amanah 😦

Yah, mudah2an gw bisa all out di organisasi ini dalam kepemimpinan Maswig yang memiliki pengalaman sangat matang.. mudah2an ada pembelajaran yang bisa gw peroleh dari organisasi ini, sehingga bisa “ditularkan” pada organisasi lainnya yang juga dalam amanah di diri gw, yaitu IAR-87 atau Ikatan Alumni Rohis SMA 87 Jakarta.

Mudah-mudahan…
amin.

Lagu “Indonesia Raya” aja bikin sensasi.. :)

Ada 2 minggu terakhir mungkin gw ga nonton tivi.. :D, maklum lagi pedooott (pake istilah adik gw) alias wafat. Tentunya banyak hal terlewat, tidak hanya sinetron, nonton bola, dengerin para penceramah ngasih tausiah.. bahkan berita teranyar pun terlewatkan. Pedih hatiku.. hikz

Pagi ini gw agak terkesima dengan news yang ditampilkan oleh detikcom dan media lainnya, Wow… ada sensasi “baru tapi lama” ini dari lagu kebangsaan Indonesia. Weleh… gw bagaikan tidak menyangka dan tak menduga, teks lagu Indonesia Raya yang selama ini gw denger (hmm.. gw masih ingat ga yaa semua lirik Indonesia Raya…) ternyata beda dengan teks yang disinyalir adalah asli dari Kang WR Soepratman.

Jadi, apa yang salah dengan naskah aslinya.. ?? kenapa harus diganti … pertanyaan itu kerap muncul, bahkan saat ini gw lagi mencoba menyanyikan lagu kebangsaan itu, untuk menyocokkan.. (tampaknya gw mulai lupa-lupa nih.. gawaaat).

Tapi, apapun fenomena yang meluncur terkait ini, gw berharap masalah ini ga mesti menjadi polemik politik yang berkepanjangan. Lagu “baru”nya cukup bersemangat dengan jiwa patriotik yang tinggi pada masanya, lagu “lama”nya pun cukup religius dan bersahaja dengan harapan tinggi untuk Indonesia Raya.

Ini salah satu link yang jadi referensi mendengar gw… http://www.youtube.com/watch?v=6QvyLkdl1_s

MERDEKA BUNG !!!